Kemampuan Regenerasi Kalus Empat Klon Tebu (Saccharum officinarum L.)
Abstrak: Tebu merupakan salah
satu komoditas penting pertanian karena memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai
bahan baku industri gula. Salah satu masalah yang dihadapi adalah pengadaan
bibit tebu skala besar karena ketersediaan lahan sebagai kebun bibit tebu yang
semakin terbatas. Budidaya jaringan tanaman menjadi salah satu alternatif untuk
mengatasi masalah tersebut. Budidaya kalus dan regenerasi tanaman merupakan
faktor pendukung dalam budidaya jaringan tanaman, namun terdapat permasalahan
dalam penyimpanan kalus jangka panjang yaitu penurunan kemampuan regenerasi
kalus setelah mengalami pindah tanam (subculture). Penelitian ini menggunakan
dua tahap penelitian yaitu tahap (1) induksi kalus dengan Rancangan Acak
Lengkap satu faktor yaitu klon tebu, dan (2) tahap regenerasi tunas dengan
Rancangan Acak Lengkap 2 faktor perlakuan 5 ulangan. Faktor pertama yaitu 4
klon tebu (PS 862, PS 864, PS 881, VMC 86-550) dan faktor kedua yaitu frekuensi
pindah tanam pada minggu ketiga, keenam, kesembilan, dan keduabelas. Eksplan yang
digunakan adalah pucuk tebu yang berumur (3 – 4) bulan. Media yang digunakan
pada tahap induksi kalus dan pindah tanam kalus adalah media MS + 1,5 mg/l
2,4-D, sedangkan regenerasi tunas dengan media MS + 2,0 mg/l IAA + 2,0 mg/l IBA
+ 2,0 mg/l kinetin. Pengamatan yang dilakukan pada tahap induksi kalus adalah
kecepatan muncul kalus dan pada tahap regenerasi tunas adalah kecepatan tumbuh
tunas dan jumlah tunas terbentuk. Analisis data secara statistik menggunakan
uji ANOVA menunjukkan terdapat beda nyata pada perlakuan klon tebu untuk
kecepatan muncul kalus. Kalus klon PS 862 memiliki kemampuan membentuk kalus
paling cepat dan pada tahap regenerasi tunas, kalus klon PS 862 juga memiliki
kemampuan membentuk tunas paling cepat serta jumlah tunas yang paling banyak.
Penulis: Riza Luth Fiah,
Taryono, dan Toekidjo
Kode Jurnal: jppertaniandd140185