HUBUNGAN ANTARA GOLONGAN DARAH DENGAN TIMBULNYA KELOID PASCALUKA
Abstrak: Keloid adalah
manifestasi dari penyembuhan luka dengan sintesis dan degradasi kolagen yang tidak
seimbang. Jaringan parut abnormal ini akan tumbuh melewati batas tepi luka
disertai gatal dan bahkan rasa nyeri
yang mengganggu. Hingga
saat ini belum
ada terapi keloid
dengan hasil yang
maksimal. Faktor risiko timbulnya keloid pascaluka perlu
diperhatikan sebelum seorang tenaga medis melakukan tindakan pembedahan, sehingga komplikasi
berupa jaringan parut
yang tidak diinginkan
ini dapat dihindari.
Keloid diakibatkan oleh luka
atau inflamasi pada
kulit. Faktor utama
penyebab keloid adalah
produksi kolagen yang
terus-menerus, defek
remodelling pada struktur
sel dan matriks
ekstraselular, pembentukan sel-sel
infiltrasi yang berlebihan, dan kurangnya jaringan elastis akibat peningkatan
aktivitas metabolik fibroblast. Keloid mengandung kolagen, fibronektin, dan
glikosaminoglikan sebagai komponen
penyusunnya. Jenis glikosaminoglikan yang
terbanyak pada jaringan luka
adalah N-asetilgalaktosamin yang
sintesisnya diinduksi oleh
enzim N-asetilgalaktosaminiltransferase. Enzim
N-asetilgalaktosaminiltransferase
ini juga terkandung
dalam antigen A yang menyusun golongan darah A dan AB.
Tujuan: Untuk mendapatkan golongan darah yang memiliki risiko terbesar
terhadap timbulnya keloid.
Desain Penelitian: observasional
analitik dengan desain case-control.
Metode: Besar sampel
yang digunakan adalah
20 orang, yang
telah dihitung dengan
mengunakan rumus perhitungan sampel
untuk studi observasional, yang
mewakili pasien keloid
yang datang ke
Poliklinik llmu Bedah Plastik
RSU Dr Soetomo,
Surabaya., yang memenuhi
kriteria inklusi. Pengambilan
sampel dilakukan dengan teknik
pencuplikan acak sederhana (simple random sampling). Metode pengumpulan data
yang peneliti gunakan dalam penelitian
ini adalah penentuan
golongan darah pada
kriteria inklusi dengan
anamnesis atau Finger Prick
Method. Untuk mengetahui
hubungan keloid dengan
golongan darah, maka
teknik analisis yang digunakan adalah Pearson Chi-square
dengan menggunakan program SPSS 13.0 for Windows.
Hasil: Dari data didapatkan hasil X2 hitung (Pearson Chi-Square) adalah
4,392 sedangkan hasil X2 tabel adalah 7,815. Hasil X2 hitung < X2 tabel
(4,392 < 7,815), maka H0 diterima. Kolom Asyp. Sig. (2-sided) hasil tes
Chi-Square di atas
menunjukkan nilai probabilitas,
yaitu 0,222 yang
berarti lebih besar
dari 0,05 (0,222
> 0,05). Kesimpulannya adalah
H0 diterima, berarti tidak ada hubungan antara baris dan kolom atau “tidak ada
hubungan antara jenis golongan darah dan hasil luka (keloid/tidak keloid)"
Kesimpulan : Tidak ada
hubungan antara golongan
darah dengan timbulnya
keloid pascaluka dan
golongan darah yang paling banyak mengalami keloid pascaluka adalah
golongan darah B.
Penulis: Karina Dyahtantri
Pratiwi, David Perdanakusuma
Kode Jurnal: jpkedokterandd120199