Relief Bima Swarga Kuburan Desa Pakraman Buleleng, Bali dan Potensinya Sebagai Sumber Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran Sejarah)
Abstract: Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui (1) Sejarah Penempatan Relief Bima Swarga Kuburan
Desa Pakraman Buleleng, (2) Bentuk reliefBima Swarga pada kuburan Desa
PakramanBuleleng (3) Nilai Potensi relief Bima Swarga, dari segi perspektif
pendidikan karakter dalam pembelajaran sejarah. Penelitian pemanfaatan relief
Bima Swarga kuburan Desa Pakraman Buleleng sebagai sumber pendidikan karakter
dalam pembelajaran sejarah,menggunakan pendekatan sosial yaitu: (1) Teknik
penentuan informan; (2) Teknik pengumpulan data (observasi, wawancara, studi
dokumen) dan; (3) analisis data. Berdasarkan temuan dilapangan menunjukkan
bahwa pembangunan relief Bima Swarga kuburan Desa Pakraman Buleleng di bangun
atau didirikan pada tahun 90-an pada masa jabatan Drs.I Ketut Ginantra sebagai
Bupati Buleleng. Awalnya sebagai syarat membangun Taman kota yaitu lomba
kebersihan Lomba Adi Pura. Bangunan relief Bima Swargakuburan Desa
PakramanBuleleng memiliki ide cerita yang sangat lekat bagi kehidupan
sekitarnya. Karena itu bilabangunan relief Bima SwargadesaPakraman Bulelengjuga
memiliki nilai- nilai yang dapat dipelajari siswa karena mempunyai: (1) Nilai
edukatif; (2) Nilai pengetahuan; (3) Nilai artistik; (4) Nilai budaya, dan; (5)
Nilai rekreatif. Dalam memanfaatkan bentuk bangunan relief Bima Swargakuburan
Desa PakramanBuleleng sebagai sumber belajar guru dapat menggunakan metoda
karya wisata. Metoda karya wisata merupakan cara yang dapat dilakukan oleh guru
dengan mengajak siswa ke objek tertentu untuk mempelajari sesuatu yang berkaitan
dengan pelajaran sekolah. Pada kegiatan karya wisata di lokasi bangunan relief
tersebut, siswa dapat melakukan observasi langsung terhadap panelrelief
kuburan, kemudian saling berdiskusi dengan sesama teman dan guru.Siswa dapat
menemukan nilai-nilai yang ada dengan melakukan pengamatan, bertanya,
mengumpulkan data, mengasosiasi data yang didapat dengan kehidupan manusia di
masa kini dan mengkomunikasikan hasil temuan temuan dengan teman sesama siswa
atau dengan guru. Selain itu siswa dapat memperoleh pengalaman nyata dan akan
tumbuh motivasi belajar sejarah lebih aktif karena ternyata belajar sejarah
tidak hanya dapat dilakukan dalam kelas tetapi juga di luar kelas sehingga
tidak yang dapat membosankan.
Penulis: Ni Wayan Astini,
Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja,MA ., Dra. Desak Made Oka Purnawati,M.Hum
Kode Jurnal: jpsejarah&umumdd140093