PENGARUH PENGGUNAAN LIMBAH BETON SEBAGAI AGREGAT KASAR PADA CAMPURAN ASPAL PORUS DENGAN TAMBAHAN GILSONITE
ABSTRACT: Limbah beton
merupakan limbah hasil penghancuran beton struktur yang diambil dari
pembangunan atau renovasi gedung. Limbah beton digunakan sebagai pengganti
agregat dalam perkerasan jalan. Perkerasan jalan yang dipilih adalah perkerasan
lentur dengan kemampuan meresapkan air ke lapisan permukaan tanah atau aspal
porus, karena dinilai cocok dengan kondisi iklim di Indonesia. Aspal porus
memiliki nilai stabilitas rendah karena menggunakan campuran dengan sedikit
agregat kasar. Oleh karena itu, dilakukan penambahan Gilsonite HMA Modifier
Grade pada aspal dengan tujuan dapat menambah nilai stabilitas pada campuran
aspal panas.
Tujuan dari penelitian yang telah dilakukan adalah untuk mengetahui
komposisi optimum limbah beton yang digunakan sebagai agregat kasar pada
campuran aspal porus dan kadar aspal aspal optimumnya. Setelah itu dilakukan
penelitian tahap selanjutnya untuk mendapatkan pengaruh penambahan Gilsonite
terhadap karakteristik Marshall. Adapun metode penelitian yang digunakan yaitu
dengan menggunakan standar gradasi Aspal Porus California dan Bina Marga.
Digunakan variasi proporsi agregat kasar antara batu pecah/limbah beton 100/0,
80/20, 60/40, 40/60, 20/80, 0/100 dan variasi kadar aspal 5%, 6%, 7%, 8%, 9%.
Kemudian digunakan variasi kadar Gilsonite 7%, 8%, 9% dan 10% dari berat aspal
pada campuran optimum. Masing-masing dibuat 3 benda uji untuk dilakukan dua
jenis pengujian yaitu Falling Head sesuai ASTM dan Marshall sesuai Bina Marga.
Hasil yang didapat dari penelitian adalah komposisi agregat kasar optimum
yaitu 0/100 (Batu pecah/limbah beton) dengan KAO 7,5%. Hasil tersebut didapat
dari membandingkan tiga metode yaitu metode Grafik Pita, 3D dan Kontur. Dan
kemudian didapatkan kadar gilsonite optimum 9% pada pengujian tahap kedua.
Dengan penambahan Gilsonite HMA Modifier Grade, mampu membuat nilai VIM pada
campuran aspal porus yang menggunakan limbah beton sebagai agregat kasar
menjadi memenuhi syarat yang ditentukan yaitu antara 18-25%. Hal tersebut
disebabkan karena penetrasi aspal menurun akibat penambahan Gilsonite.
Penambahan Gilsonite tersebut juga meningkatkan nilai stabilitas campuran.
Limbah beton sebagai pengganti agregat kasar pada campuran aspal porus juga memberikan
pengaruh yang signifikan pada nilai stabilitas, dilihat dari komposisi optimum
yang didapat adalah campuran dengan 100% limbah beton sebagai agregat kasar.
Namun pada campuran tanpa menggunakan tambahan Gilsonite, VIM yang dihasilkan
masih belum mampu memenuhi syarat standar dikarenakan dengan menggunakan aspal
pen 60/70, aspal cenderung meresap pada agregat dan mengisi rongga antar
agregat pada campuran.
Penulis: Bangun Prawiro,
Nugraha Pasca Ogenta Tarigan, Ludfi Djakfar, Hendi Bowoputro
Kode Jurnal: jptsipildd140176