PEMBERDAYAAN POTENSI MAHASISWA STBI EKSTERNAL KEDIRI DALAM MENGEJAWANTAHKAN MATERI KULIAH DALAM PRAKTIK PELAYANAN
Abstract: Proyek pelayanan ini
tentang Pemberdayaan Potensi Mahasiswa STBI Eksternal Kediri Dalam
Mengejawantahkan Materi Kuliah Dalam Praktik Pelayanan. Masalah dalam
pelaksanaan proyek ini adalah agar mahasiswa STBI Eksternal Kediri memakai
potensinya pada waktu mengejawantahkan materi kuliah dalam praktik pelayanan di
gereja tempat mahasiswa STBI Eksternal Kediri menjadi anggota gereja dalam
bidang pelayanan berkhotbah, pekabaran Injil, dan mengajar.
Pelaksanaan proyek ini menggunakan metode mengajar (melatih)
mahasiswa. Ada 13 (tiga belas) mahasiswa
yang dilibatkan secara aktif untuk mencapai 3 (tiga) tujuan pelayanan proyek
ini dalam praktik pelayanan di gereja di mana mahasiswa menjadi anggota gereja.
Metode ini menggunakan pola sebagai berikut: Selama 6 (enam) bulan adalah waktu
pelaksanaan proyek pelayanan, penulis membagi dalam 3 (tiga) tahap dengan 2
(dua) bulan setiap tahap. Tahapan ini meliputi: Menyiapkan materi pengajaran
(pelatihan), presentasi, persiapan dan pelaksanaan proyek oleh mahasiswa,
evaluasi dan hasil pelaksanaan yang ditunjukkan dengan distribusi prosentasi
dan diagram.
Proyek yang dilaksanakan dapat mencapai ketiga sasaran yaitu: Pertama,
Pengejawahtahan potensi mahasiswa didalam bidang berkhotbah menunjukkan, bahwa
mayoritas (75%) dari mahasiswa memahami Khotbah Ekspositori. Dengan demikian
sebagian besar mahasiswa MA STBI Eksternal Kediri mempraktikkan apa yang telah
mereka terima dalam kuliah. Juga sebagian besar (mencapai 47,5%) melayani dalam
pelayanan mimbar rata-rata satu kali perbulan. Kedua, dalam pengejawantahan
potensi mahasiswa dalam bidang pekabaran Injil, (dalam kelompok sel) berperan
sebagai ketua 7,5%, sebagai anggota 37,5%, sedangkan menjadi pembina 47,5% dan
lain – lain 7,5%. Hal ini mengidentifikasikan bahwa mahasiswa lebih
memberdayakan anggota kelompok dalam hal memenangkan jiwa atau paling tidak,
adanya keseimbangan di antara mahasiswa MA STBI Eksternal Kediri dengan anggota
gereja biasa. Namun nampak bahwa semua (100%) mahasiswa memahami manfaat
kelompok sel sebagai sarana pekabaran Injil. Ketiga, dalam hal keterlibatan
mahasiswa dalam mengajar dalam Sekolah Minggu menunjukkan bahwa banyak diantara
mahasiswa yang mengajar kelompok umur 6-10 tahun mencapai 30% dan mengajar
diusia lebih dari 16 tahun mencapai 30%.
Ada 7,5% dari jawaban yang riil adalah mengajar diusia 11-15 tahun dan
7,5% dari mahasiswa menjawab tidak
pernah. Namun nampak bahwa banyak diantara mahasiswa menjawab lain-lain (dalam
arti tidak memberi jawaban) yang mencapai 20%. Mahasiswa yang mengajar di level
anak paling dominan mencapai 28%, sedangkan pada bagian lain mahasiswa yang
mengajar di level pemuda dan remaja cukup berimbang yaitu mencapai masing-masing
25%. Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa lebih cenderung memberdayakan
potensinya dalam bidang mengajar pada level usia anak sampai pemuda.
Penulis: Daniel Tatang Efendi
Kode Jurnal: jpkeperawatandd100013