Korelasi antara Imunoekspresi p53 dan Respons Kemoterapi Neoadjuvan Regimen Fluororasil, Adriamisin, dan Siklofosfamid pada Karsinoma Duktus Payudara Invasif

Abstract: Karsinoma duktus payudara invasif (KDPI) stadium IIIB perlu penanganan multimodalitas. Kemoterapi neoadjuvan (KN) diberikan untuk menurunkan ukuran dan stadium tumor agar dapat dilakukan operasi. Regimen KN yang biasanya digunakan yaitu fluororasil, adriamisin, dan siklofosfamid (FAS). Kemoterapi FAS bekerja dengan cara merusak deoxyribonucleic acid dan menginduksi apoptosis sel kanker. Terjadinya kelainan protein atau gen yang berhubungan dengan apoptosis (p53) diduga mempengaruhi respons kemoterapi tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi imunoekspresi p53 dengan respons kemoterapi neoadjuvan FAS. Penelitian ini merupakan penelitian analitik potong lintang terhadap 40 kasus KDPI yang diberikan KN FAS di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Maret 2008–Februari 2009. Respons KN FAS dinilai berdasarkan ukuran massa tumor setelah pemberian FAS. Blok parafin penderita dibuat pulasan hematoksilin-eosin dan imunohistokimia dengan menggunakan mouse monoclonal antibody p53 protein (Novocastra), kemudian ditentukan tingkat imunoekspresi p53. Uji statistik dengan Somers’d dan Gamma untuk menguji korelasi antar variabel. Nilai p<0,05 secara statistik dianggap bermakna. Pada 40 kasus KDPI, 20 berespons dan 20 kasus tidak berespons terhadap KN FAS; 13 kasus terekspresi p53>75%, 14 kasus p53=10–75%, 7 kasus p53<10%, dan 6 kasus tidak terekspresi p53. Terdapat korelasi bermakna antara imunoekspresi p53 dan respons kemoterapi FAS (p=0,000). Simpulan, semakin tinggi ekspresi p53, semakin tidak berespons terhadap KN FAS. Imunoekspresi p53 dapat memprediksi respons KN FAS pada KDPI stadium IIIB. [MKB. 2012;44(1):13–8].
Kata kunci: Karsinoma duktus payudara invasif, imunoekspresi, p53
Penulis: Muhartono, Rizki Hanriko
Kode Jurnal: jpkedokterandd120113

Artikel Terkait :