KOMBINASI EKSTRAK BATANG TALIKUNING DAN ARTEMISIN SEBAGAI OBAT ANTIMALARIA TERHADAP PLASMODIUM BERGHEI
ABSTRAK: Malaria, penyakit
menular dengan tingkat kematian yang tinggi sekarang menghadapi penurunan
kemanjuran obat obat pilihan pertama yaitu kombinasi artemisin dan amodiaquine.
Talikuning (Anamirta cocculus), adalah jamu tradisional yang secara empiris
digunakan sebagai antimalaria di Papua telah disarankan untuk meningkatkan
efektivitas kombinasi obat antimalaria. Talikuning batang dan akar mengandung
alkaloid kuartener yang dianggap memiliki aktivitas fisiologis sebagai
antimalaria. Penelitian ini bertujuan untuk memahami efek antimalaria dari
ekstrak batang talikuning dan kombinasinya dengan artemisin pada derajat
parasitemia mencit terinfeksi Plasmodium berghei. Peritoneal tikus yang
terinfeksi dengan Plasmodium berghei ANKA 106 dan dibagi menjadi 11 kelompok
perlakuan, kontrol negatif, kontrol positif; artemisin dosis 0,04 mg / g BB;
talikuning dosis: 0,001 mg / g BB; 0,01 mg / g BB; 0, 1 mg / g BB, dan 1 mg / g
BB. Dan kombinasi artemisin talikuning dosis: 0,001 mg / g BB; 0,01 mg / g BB,
0,1 mg / g BB; and1 mg / g BB. Pengobatan dimulai pada hari 0 di mana derajat
parasitemia mencapai 5-15% dan dilanjutkan selama 7 hari, observasi parasitemia
dilakukan pada hari 3, 5 dan 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak
talikuning induk bisa menghambat
pertumbuhan Plasmodium berghei secara signifikan (p <0,05) terhadap kontrol
dengan ED50 dari 0,043 mg / g BB tikus yang setara dengan 4,7 mg / kg BB
manusia. Namun demikian, kombinasi dosis-talikuning artemisin tidak menunjukkan
perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan pengobatan monoterapi artemisin
(p> 0,05) baik pada hari 3, 5 dan 7 hari pasca terapi. Hal ini menunjukkan
bahwa pemberian kombinasi-talikuning artemisin tidak berbeda dari penyediaan
artemisin monoterapi.
Penulis: Roihatul Muti'ah,
Loeki Enggar F, Sri Winarsih, Soemarko Soemarko, Dorta Simamora
Kode Jurnal: jpkedokterandd100157