HUBUNGAN TINGKAT KEPOSITIFAN BTA DALAM SPUTUM DENGAN GEJALA KLINIS TB PARU BTA (+) DI RSUD RADEN MATTAHER
ABSTRACT: Tuberkulosis paru
adalah penyakit yang disebabkan oleh M. tuberculosis. Pada tahun 2011 Indonesia
menduduki peringkat ke-4 dunia untuk kasus tuberkulosis. Sumber infeksi berasal
dari penderita yang membatukkan dahaknya. Resiko penularan TB lebih tinggi pada
pasien dengan apusan dahak BTA (+) dibandingkan BTA (-). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui distribusi frekuensi gejala klinis tuberkulosis paru
BTA (+) dan hubungan tingkat kepositifan BTA dalam sputum dengan gejala klinis
tuberkulosis paru BTA (+) di bagian paru RSUD Raden Mattaher Jambi Periode
Maret-Mei 2013. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan cross
sectional. Dalam pelaksanaannya peneliti melakukan anamnesis terhadap pasien
tuberkulosis paru BTA (+). Hasil uji Kolmogorov smirnov yang dilakukan untuk
melihat korelasi antara tingkat kepositifan
BTA dalam sputum dengan gejala
batuk berdarah sesak napas, nyeri dada, dan demam yaitu < 0,05. Sehingga
diketahui bahwa ada hubungan antara kepositifan BTA dalam sputum dengan gejala
tersebut.
Penulis: Agustina dewi
Kode Jurnal: jpkedokterandd130070