Aliran Daya Optimal Pada Sistem Minahasa

Abstract: Sistem Minahasa merupakan sistem tenaga listrik dengan daerah pelayanan yang meliputi kota Manado, kota Tomohon, Bitung, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Minahasa Induk, Minahasa Tenggara, dan Kotamobagu dimana sistem bekerja secara terinterkoneksi.Melihat kondisi kelistrikan yang masih biasa terjadi pemadaman akibat kekurangan daya, sehingga diperlukan pengoperasian pembangkit yang lebih besar yakni dengan cara menghubungkan kerja antara sistem (misalnya sistem Minahasa 70 kV dan 150 kV).
Pengaturan pengoperasian pembangkit harus mampu dioperasikan secara optimal, sehingga daya yang disalurkan ke konsumen dapat terpenuhi (Pdemand). Untuk mengatur pengoperasian pembangkit diperlukan sistem penjadwalan yang tepat dan akurat. Permasalahan ini dapat diselesaikan melalui program matematika berdasarkan teknik optimasi yaitu metode iterasi lamda.
Optimal Power Flow (OPF) adalah metode perhitungan kebutuhan daya (Pdemand) beban untuk melakukan penjadwalan pembangkit secara efisien dengan tujuan meminimasi biaya total produksi dari pembangkit. Dengan kata lain, mencari solusi ekonomis dalam penjadwalan unit pembangkit berdasarkan jumlah kebutuhan daya yang diperlukan.
Perhitungan untuk mendapatkan aliran daya menggunakan metode Newton- Raphson.Sedangkan dalam pembagian beban untuk penjadwalan menggunakan unit commitment. Dengan bantuan perangkat lunak ETAP: Power Station 4.0, diperoleh daya output yang dibutuhkan oleh konsumen sistem tenaga listrik Minahasa sebesar 147.6 MW. Berdasarkan kebutuhan daya (Pdemand) akan dilakukan penjadwalan dari unit pembangkit termal menggunakan metode iterasi lamda.
Pembangkit termal merupakan pembangkit yang beroperasi dengan output daya yang besar maka biaya bahan bakar menjadi lebih mahal, oleh sebab itu diperlukan penjadwalan yang ekonomis. Dari hasil penjadwalan pada penelitian ini, memberikan hasil yang lebih optimum dibandingkan total biaya bahan bakar yang dikeluarkan oleh PT. PLN (Persero) Wilayah Suluttenggo. Total biaya bahan bakar yang diperoleh sebesar Rp. 369.669.939,500,-. Sedangkan total biaya bahan bakar dari PT. PLN (Persero) Wilayah Suluttenggo sebesar Rp. 438.957.267,800,-.
Kata  kunci: Sistem  Tenaga  Listrik  Minahasa, ETAP:Power  Station  4.0,  kebutuhan  daya  (Pdemand), unit commitment, OPF
Penulis: Nova Gama, Fielman Lisi, Maickel Tuegeh, A. F. Nelwan
Kode Jurnal: jptkomputerdd120081

Artikel Terkait :