DAMPAK LIMBAH DAN BEKAS TAMBANG TIMAH TERHADAP LINGKUNGAN : Kasus di Kecamatan Belinyu Kabupaten Bangka Provinsi Bangka Belitung
Abstrak: Logam timah
diperoleh dari penambangan
bijih timah melalui
proses metalurgi. Bijih
timah sebelum mengalami proses
metalurgi, terlebih dulu dilakukn pengerjaan awal. Penggunaannya untuk
pelapisan pelat baja tipis bahan
kemasan makanan dan
minuman, sebagai logam
paduan misalnya perunggu
dan pateri. Tambang Inconvensional (TI)
dan skala usaha
yang lebih kecil
yaitu Tambang Rakyat
(TR) sudah berlangsung lama
(400tahun silam) di
provinsi Bangka Belitung.
Satu unit Tambang
Inkonvensional (TI) dapat menghasilkan
Rp 4 juta/hari,
bayaran buruh mencapai
Rp 150.000/hari, dan
anak-anak bisa mengumpulkan uang
Rp 40.000/hari dari
mengumpulkan sisa pencucuian
pasir timah. Dampak
negatifnya adalah kerusakan lingkungan
yang dasyat akibat
ekploitasi yang tak
memperhatikan keseimbangan ekosistem. Tanah
dan lumpur sisa
menyebabkan pendangkalan sungai
dan hutan bakau
di pantai menjadi rusak, lubang-lubang bekas
penambangan tandus, serta kekeringan panjang. Timbul penyakit malaria akibat banyaknya
lubang tambang yang tergenang air. Muncul penyakit masyarakat, yakni prostitusi
dan kebiasaan minum minuman keras,
serta penyelundupan pasir
timah ke luar
negeri. Sektor pertambangan
selain memberikan pendapatan bagi negara, membuat pemiskinan disekitar
kawasan pertambangan. Semakin besar skala pertambangan, semakin besar pula daya
rusaknya terhadap lingkungan dan semakin sulit dipulihkan.
Kata Kunci: ”Limbah”, ”Tambang
Timah”,”Kecamatan Belinyu”
Penulis: A. Sutowo Latief
Kode Jurnal: jptmesindd100003