KINERJA PEMASARAN DAN DAYA SAING EKSPOR KAKAO INDONESIA (Studi Kasus di Propinsi Sulawesi Tenggara)

ABSTRAK: Penelitian  dilaksanakan  tahun  2005  di  Kabupaten  Kolaka,  daerah  sentra  produksi  kakao  Sulawesi Tenggara.  Tujuan  penelitian,  yaitu:  (1)  menganalisis  pemasaran  kakao  di  tingkat  petani  dan  (2)  menganalisis kinerja  ekspor  kakao  terutama  daya  saing  kakao  Indonesia  di  pasar  internasional.      Penelitian  menggunakan metoda survai. Hasil penelitian menunjukan, bahwa petani menjual kakao melalui tiga saluran pemasaran, yaitu: pertama,  petani  menjual  kakao  ke  pengumpul,  dari  pengumpul  ke  pedagang  besar  lalu  pedagang  besar menjualnya  ke  eksportir;  kedua  petani  menjual  kakao  ke  pengumpul  lalu pengumpul menjualnya  ke  eksportir; ketiga,  petani menjual kakao ke pedagang besar lalu pedagang besar menjualnya ke eksportir.  Saluran pertama paling  sering  digunakan  oleh  petani  dibandingkan  saluran  lainnya.  Pada  setiap  saluran,  eksportir  selalu memperoleh keuntungan paling besar (antara Rp.1.000 sampai Rp.1.050/kg) dibandingkan pelaku pasar lainnya. Hal  ini  sudah  wajar  karena  mereka  mengeluarkan  biaya  besar  untuk  mendapatkan  mutu  barang  sesuai permintaan  importir,  menanggung  resiko  akibat  perubahan  harga  di  pasar  dunia  serta  perubahan  nilai  tukar rupiah  terhadap  mata  uang  asing.  Ekspor  kakao  Indonesia  belum  berorientasi  pasar,  melainkan  masih berorientasi  produksi  dimana  perkembangan  volume  ekspor  tidak  sejalan  dengan  perkembangan  nilai  kspor. Hasil  analisis  RCA  selama  sembilan  tahun  (1995-2004)  menunjukkan  bahwa  daya  saing  kakao  Indonesia cenderung menurun (0,11%/tahun) dan juga Ghana (3,98%) dan Pantai Gading (2,59%) per tahun.  Sementara, negara  eksportir lainnya  mengalami  kenaikan  seperti  Belgia  (35,09%),  Belanda  (8,15%),  Nigeria  (4,82%)  dan Kamerun  (1,52%)  per  tahun.  Pemerintah  perlu  memberikan  dukungan  kebijakan  yang  kondusif  untuk meningkatkan daya saing kakao Indonesia. Perbaikan diperlukan mulai dari tingkat usahatani melalui penerapan teknologi unggulan, perbaikan pasca panen dan pemasaran. 
Kata kunci: kakao, analisis pemasaran dan ekspor
Penulis: Ade Supriatna dan Bambang Dradjat
Kode Jurnal: jppertaniandd080070

Artikel Terkait :