Politik Bahasa dalam Pemberitaan Timnas Sepakbola Indonesia

Sari: Apapun jenis medianya, media pada dasarnya tidak mereproduksi, melainkan menentukan (to define) realitas melalui pemakaian kata-kata yang terpilih. Media bukanlah sekedar saluran yang bebas, ia juga subjek yang mengkonstruksikan realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan pemihakannya. Paradigma kritis menyatakan bahwa realitas yang hadir di depan wartawan sesungguhnya adalah realitas yang telah terdistorsi. Realitas tersebut disampaikan kepada khalayak dalam bentuk bahasa (teks) oleh media. Bahasa, baik pilihan kata maupun struktur gramatika, dipahami sebagai pilihan, mana yang dipilih oleh seseorang untuk diungkapkan membawa makna ideologi tertentu. Analisis wacana kritis adalah metode penelitian terhadap teks berita dengan asumsi paradigma kritis yang menganggap bahwa teks berita tersimpan praktik ideologi. Tujuan analisis wacana kritis adalah untuk mengembangkan asumsi-asumsi yang bersifat ideologis yang terkandung dibalik kata-kata dalam teks atau ucapan dalam berbagai bentuk kekuasaan. Hasil penelitian ini menunjukan Tabloid Bola sering menggunakan kosakata yang dapat mengalihkan realitas, membatasi pandangan pembaca, memenangkan sebuah wacana, dan memarjinalkan subyek pemberitaan. Sebuah realitas dibahasakan berbeda oleh Tabloid Bola dengan maksud dan tujuan tertentu. Hal itu dilakukan dengan cara menggunakan kata-kata yang bermakna ganda. Dalam hal tata bahasa, Tabloid Bola berusaha untuk mengecilkan atau menghilangkan fungsi sebuah subyek dalam pemberitaan. Perubahan kalimat aktif ke kalimat pasif membuat subyek pemberitaan tidak memiliki peran yang penting dalam sebuah kalimat. Tabloid Bola tidak seimbang dalam menyampaikan sebuah berita. Subyektifitas masih dapat ditemukan dalam berita-berita Tabloid Bola.
Kata Kunci: Analisis Wacana, politik bahasa, berita sepakbola
Penulis: Fadly Molana
Kode Jurnal: jpkomunikasidd100028

Artikel Terkait :