Kajian Semiotika tentang Etika Komunikasi Anas Urbaningrum dalam Pengaruh Budaya Jawa
Abstraksi: Secara umum orang
Jawa identik dengan sikap sopan, segan, lebih menyembunyikan perasaan atau
tidak suka langsung berterus terang, menjaga etika berbicara baik secara konten
isi dan bahasa perkataan maupun obyek yang diajak bicara. Hingga saat ini pun
bahasa Jawa masih dianggap sebagai bahasa yang memiliki peradaban tinggi karena
bahasa tersebut memiliki strata yakni tingkatan bahasa yang diucapkan dengan
pemilihan kata yang disesuaikan dengan obyek yang diajak berbicara atau dengan
siapa kita berkomunikasi.Berkaitan dengan etika berkomunikasi, artikel ini
menguraikan tentang pernyataan dari Anas Urbaningrum yang menggunakan istilah
dalam budaya atau bahasa Jawa yakni “politik para sengkuni” dan “nabok nyilih
tangan” dalam kajian semiotika. Pada dasarnya kajian semiotika terbagi dalam 3
(tiga) hal, yakni : semantik, sintaktik dan pragmatik. Lebih lanjut dijelaskan
bahwa dalam prespektif semiotika, pemahaman bukan hanya pada kata-kata,
melainkan juga pada struktur bahasa, masyarakat dan budaya dengan unsur
komunikasi didalamnya.Berdasarkan kajian semiotika, dapat disimpulkan bahwa
pernyataan Anas dalam bahasa Jawa tersebut dalam etika komunikasi mengandung 2
(dua) hal. Dalam etika deskriptif pernyataan Anas adalah wajar mengingat Anas
adalah orang Jawa yang kurang lugas dan senang menggunakan simbol. Namun secara
etika normatif dianggap tidak sopan karena ditujukan untuk orang yang lebih
tua.
Kata kunci: etika komunikasi,
budaya, semiotika
Penulis: Utami Setyowati
Kode Jurnal: jpkomunikasidd130338