ISLAM DAN MASA DEPAN HAK ASASI MANUSIA (Menimbang Relevansi Pemikiran Abdullahi Ahmed An-Naim)
Abstrak;
Realitas dunia modern meniscayakan seorang muslim untuk memikirkan kembali
tentang bagaimana menjadi muslim di tengah interdependensi keamanan, politik,
serta sosial budaya. Hal inilah yang menggelisahkan Abdullahi Ahmed An-Naim,
seorang intelektual muslim asal Sudan.
Pemberian jaminan hukum internasional atas pelaksanaan hak kolektif
setiap negara untuk menentukan nasib sendiri, membuat muslim yang berposisi
mayoritas memobilisasi identitasnya dalam bentuk negara Islam serta pelaksanaan
syari’ah di dalamnya. Akan tetapi, penegasan hak kolektif untuk menentukan
nasib sendiri (self determination) haruslah diletakkan dalam kerangka memberikan
keadilan bagi seluruh penduduk tanpa membedakan jenis kelamin, ras dan agama.
Dengan kata lain, kewajiban menghormati hak asasi manusia adalah bagian
integral dari hak untuk menentukan nasib sendiri. Di sinilah letak problem
pelaksanaan syari’ah Islam, dalam beberapa kasus, pelaksanaan syari’ah Islam
justru melanggar Hak Asasi Manusia terutama Hak Asasi Perempuan dan non-muslim.
Apa yang dilakukan An-Naim kemudian adalah mengupayakan jalan damai agar Hak
Asasi Manusia yang ditetapkan PBB mendapat legitimasi dari Islam, agar
pelaksanaan hak kolektif untuk menentukan nasib sendiri oleh umat Islam tidak
bertentangan dengan nilai-nilai Hak Asasi Manusia yang sudah dideklarasikan
secara universal.
Kata Kunci; Hak
Asasi Manusia Universal dan Syari’ah Islam
Penulis: Ita
Musarrofa
Kode Jurnal: jpperadabanislamdd130086