PENDEKATAN BALANCED SCORECARD UNTUK MENGUKUR KINERJA MENYELURUH ORGANISASI KOPERASI KPRI KESRA DINAS KOPERASI, USAHA KECIL DAN MENENGAH KABUPATEN DELI SERDANG
ABSTRAKSI: Pengurus koperasi
sering terpaku hanya
pada angka dalam
sisa hasil usaha
dan ngka-angka neraca
dalam menilai kinerja.
Padahal unsur itu
hanyalah salah satu
dari sekian banyak komponen
yang berinteraksi dalam
lembaga. Oleh sebab
itu fluktuasi yang
terjadi dalam laporan keuangan
sering sulit dimengerti
dengan baik. Kaplan
dan Norton dalam bukunya
menjelaskan hal ini
dalam balanced scorecard.
Pengelola organisasi perlu memperhatikan perpektif lain yang tidak
kalah penting yakni perpektif pelanggan, perpektif proses bisnis, dan perpektif
pertumbuhan/pembelajaran. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian
ini yakni: agaimana
kinerja Koperasi KPRI
Kesra Dinas Koperasi,
Usaha Kecil dan Menengah
Kabupaten Deli Serdang.
Tujuan penelitian adalah
untuk mengetahui dan menganalisis
kinerja organisasi koperasi. Manfaat utama yaitu sebagai bahan referensi bagi pihak-pihak
yang berkepetingan. Teori
yang digunakan terkait
dengan kinerja dan balanced scorecard. Data dikumpulkan
dengan sekunder dan primer. Sekunder menyangkut laporan koperasi,
sedangkan primer melalui
kuessioner dan wawancara
dengan pengurus dan anggota
koperasi. Metode Analisis yang digunakan adalah deskriptif dan analisis
faktorial sederhana.
Komponen-komponen Balanced scorecard
diuraikan lebih lanjut
dalam analisis deskriptif. Temuan
dari penelitian dapat diuraikan sebagai berikut: Dua parameter perspektif keuangan
mengalami peningkatan selama 3 tahun ( 2008
-2010 ) yakni Return On Asset ( ROA ) dan Profit Margin on Sales ( PMS
). 2 variabel lain yaitu Loan to Deposit Ratio ( LDR ) dan Growth
Rate In Sales
( GRS )
cenderung menurun dalam
kurun waktu diatas.
Dalam perspektif pelanggan 2 variabel kurang baik yakni : Customer
retention mengalami 2 orang anggota
keluar selama tiga tahun ( 2008 – 2010 ); Number of New Customer tidak ada sama
sekali. Jumlah keluhan cenderung semakin sedikit. Hal ini menunjukkan
kecenderungan yang semakin baik. Kepuasan anggota masuk dalam kategori baik.
Cycle time cenderung semakin singkat
artinya terjadi efisiensi
dalam pemrosesan pinjaman.
Yield Rate mengalami penurunan selama 3 tahun
berturut-turut ( 2008 – 2010 ) Tiga parameter dalam perspektif pertumbuhan dan
pembelajaran menunjukkan perkembangan yang kondusif yakni employee productivity, employee
turn over dan
absenteeism. Kepuasan pengelola
yang diperoleh melalui kuessioner
berada pada kategori
sedang. Berdasarkan temuan
diatas diberikan rekomendasi
berikut: Pengurus perlu mendayagunakan lebih maksimal dana yang masuk ke koperasi dalam
bentuk pemberian pinjaman
kepada anggota sehingga
volume usaha akan semakin
meningkat . Anggota
luar biasa yang
berasal dari luar
instansi perlu mendapat perhatian. Siapa
di daerah sekitar
kantor koperasi yang
potensil menjadi anggota.
Hal ini menjadi sangat penting
karena bila anggota dari dalam instansi saja, tentu saja jumlahnya terbatas.Penetapan target
volume usaha perlu
ditinjau kembali agar
lebih menantang kreativitas pengurus.
Bila dibandingkan antara
target dengan realisasi
pinjaman selama 3 tahun ( 2008 – 2010 ) cenderung kurang
menantang. Efisiensi dalam pemrosesan pinjaman dan kegiatan-kegiatan lain
dalam proses bisnis
koperasi agar tetap
dipelihara.Kepuasan pengelola
koperasi perlu lebih
ditingkatkan terutama untuk
mendorong mereka lebih produktif dan
kreatif dalam mengelola
koperasi. Kompensasi yang
mereka terima perlu ditingkatkan sesuai
dengan kontribusi dan
tanggung jawab mereka
terhadap kemajuan organisasi.
Kata kunci: Pengukuran
kinerja, Balanced Score Card, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah
Penulis: Runggu B. Napitupulu,
Marion Sibarani, Chainar Elliria, S Yudi Nugroho
Kode Jurnal: jpmanajemendd130466
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<<