Ciri-ciri Pelacuran

Terdapat beberapa ciri-ciri pelacuran. Kartini Kartono (2005) menyatakan ciri-ciri khas dari pelacur ialah sebagai berikut:
  1. Wanita, lawan pelacur adalah gigolo (pelacur pria, lonte laki-laki).
  2. Cantik, ayu, rupawan, manis, atraktif menarik, baik wajah maupun tubuhnya. Bisa merangsang selera seks kaum pria.
  3. Masih muda-muda. 75% dari jumlah pelacur di kota-kota ada 30 tahun. Yang terbanyak adalah 17-25 tahun. Pelacuran kelas rendah dan menengah acap kali memperkerjakan gadis-gadis pra-puber berusia 11-15 tahun, yang ditawarkan sebagai barang baru.
  4. Pakaian sangat menyolok, beraneka warna, sering aneh/eksentrik untuk menarik perhatian kaum pria. Mereka itu sangat memperhatikan penampilan lahiriahnya, yaitu : wajah, rambut, pakaian, alat kosmetik dan parfum yang merangsang.
  5. Menggunakan teknik seksual yang mekanis, cepat, tidak hadir secara psikis (afwejig, absent minded), tanpa emosi atau afeksi, tidak pernah bisa mencapai orgasme sangat provokatif dalam ber-coitus, dan biasanya dilakukan secara kasar.
  6. Bersifat sangat mobile, kerap berpindah dari tempat/kota yang satu ke tempat/kota lainnya.
  7. Pelacur-pelacur professional dari kelas rendah dan menengah kebanyakan berasal dari strata ekonomi dan strata sosial rendah, sedangkan pelacur-pelacur dari kelas tinggi (high class prostitutes) pada umumnya berpendidikan sekolah lanjutan pertama dan atas, atau lepasan akademi dan perguruan tinggi, yang beroperasi secara amatir atau secara professional.
  8. 60-80% dari jumlah pelacur ini memiliki intelek yang normal. Kurang dari 5% adalah mereka yang lemah ingatan (feeble minded). Selebihnya adalah mereka yang ada pada garis-batas, yang tidak menentu atau tidak jelas derajat intelegensinya.
Pendapat selanjutnya adalah mengenai ciri gigolo yang disampaikan Lindinalva Laurindo da Silva (1999). Dalam bukunya Lindinalva menjalaskan bahwa terdapat dua kategori gigolo, yang pertama yang disebut dengan travestis (waria), memiliki ciri bersifat feminim dan lebih menyatakan diri mereka sebagai homoseksual sehingga hanya memberikan layanan seks pada laki-laki lain. Ketegori kedua adalah garcons, yang lebih sering menyebut diri mereka dengan istilah gigolo, memiliki ciri maskulin dan sering tidak mengetahui orientasi seks yang mereka miliki. Perbedaan dari kedua kategori gigolo ini juga dapat dilihat dari tempat mereka melakukan pekerjaan seks, cara mereka melakukan hubungan seks, klien mereka dan cara pembayaran untuk pelayanan seks berada.

Artikel Terkait :