PENGHANGATAN DAERAH INSERSI JARUM INJEKSI INTRAVENA PADA PASIEN ANAK DENGAN TERAPI FENITOIN INTRAVENA UNTUK MENCEGAH TERJADINYA PEMBENGKAKAN DAN KEMACETAN INJEKSI INTRAVENA TAHUN 2008

ABSTRAK: Fenomena Di ruang anak RS Dr Saiful Anwar Malang sering terjadi pembengkaan dan kemacetan di daerah insersi injeksi intravena pada pasien anak yang mendapatkan terapi fenitoin intravena, sehingga meningkatkan resiko infeksi dan trauma. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kompres hangat dengan terjadinya pembengkakan dan kemacetan di daerah insersi injeksi intravena pada pasien anak yang terpasang injeksi intravena dengan terapi fenitoin intravena. Penelitian pra eksperimen dengan rancangan eksperimen semu (quasy experiment). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa dari 8 responden kelompok perlakuan 6 responden tidak terjadi pembengkakan dan kemacetan insersi injeksi intravena sampai 3 x 24 jam setelah pemasangan insersi jarum intravena injeksi, sedangkan 2 responden terjadi pembengkakan dan kemacetan insersi intravena injeksi. Dari 8 kelompok kontrol, 4 responden terjadi pembengkakan dan kemacetan insersi injeksi intravena, 3 terjadi kemacetan injeksi intravena, 1 responden tidak terjadi pembengkakan dan kemacetan insersi injeksi intravena. Penghangatan kering dengan suhu 39 ºc di daerah insersi jarum injeksi intravena saat pemberian injeksi fenitoin intravena signifikan mencegah kemacetan injeksi intravena tetapi tidak signifikan mencegah pembengkakan. Pengolahan dengan metode fisher’s exact test didapatkan exact sig (2-sided) 0,041 lebih kecil dari 0,05. Exact sig (1-sided) 0,020 lebih kecil dari 0,05. Distribusi responden dari 8 kelompok kontrol, untuk jenis kelamin meliputi: 5 anak perempuan dan 3 anak laki-laki, klasifikasi umur meliputi: 0-1 tahun sebanyak 4 anak, > 1-3 tahun sebanyak 1 anak dan > 5 tahun sebanyak 3 anak, kelompok penyebab kejang sebanyak 5 anak disebabkan oleh penyakit infeksi (meningitis, encephalitis), sebanyak 3 anak disebabkan oleh kondisi stastus epileptikus. Lokasi pemasangan jarum injeksi intravena: di tangan sebanyak 2 anak, di kaki sebanyak 5 anak dan di kepala sebanyak 1 anak. Dosis fenitoin: sebanyak 7 anak mendapatkan dosis 10-50 mg, sebanyak 1 anak mendapatkan dosisi > 50-100 mg. Kondisi kesadaran responden, sadar penuh sebanyak 2 anak, kesadaran menurun sebanyak 4 anak dan koma sebanyak 2 anak. Responden kelompok perlakuan dari 8 anak untuk jenis kelamin, penyebab kejang dan klasifikasi umur sama dengan kelompok kontrol sedangkan untuk dosis fenitoin: 10-50 mg sebanyak 6 anak, dan dosis > 100 mg sebanyak 2 anak. Kondisi kesadaran responden sadar penuh sebanyak 2 anak, kesadaran menurun sebanyak 3 anak dan koma sebanyak 3 anak. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kompres hangat kering dengan suhu 39 ºc tidak dapat mencegah terjadinya pembengkakan daerah insersi jarum injeksi intravena pada pasien anak yang mendapatkan terapi fenitoin intravena. Kompres hangat kering dengan suhu 39 ºc dapat mencegah kemacetan injeksi intravena pada pasien anak yang mendapatkan terapi fenitoin intravena. Kompres hangat kering dengan suhu 39 ºc tidak bisa mencegah pembengkakan dan kemacetan injeksi intravena pada pasien anak yang mendapatkan terapi fenitoin intravena. Semua responden yang mengalami pembengkakan pasti diikuti dengan kemacetan injeksi intravena.
Kata kunci: penghangatan, daerah insersi jarum injeksi intravena, fenitoin
Penulis: Siti Masamah, Andreas Supriyanto
Kode Jurnal: jpkeperawatandd100101

JURNAL BERHUBUNGAN: