JURNAL TERBARU

PENGARUH KADAR AIR, DOSIS DAN LAMA PENGENDAPAN KOAGULAN SERBUK BIJI KELOR SEBAGAI ALTERNATIF PENGOLAHAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TAHU

Abstrak: Limbah  cair  industri  tahu  mengandung  bahan-bahan  organik  yang  sangat  tinggi.  Senyawa-senyawa  organik  di dalam  limbah  cair  tersebut  berupa  protein,  karbohidrat,  lemak  dan  minyak.  Berdasarkan  hasil  studi  Balai Perindustrian  Medan  terhadap  karakteristik  air  buangan  industri  tahu  di  Medan,  diketahui  bahwa  limbah  cair industri tahu rata-rata mengandung BOD (4583 mg/l),  COD (7050 mg/l), TSS (4743 mg/l) dan minyak atau lemak (26  mg/l)  dengan  pH  6,1.  Oleh  sebab  itu,  limbah  cair  tersebut  harus  diolah  terlebih  dahulu  sebelum  dibuang  ke lingkungan untuk mengurangi kandungan pencemar yang menyertai limbah tersebut. Salah satu koagulan alternatif yang dapat digunakan adalah serbuk biji kelor. Penelitian ini menggunakan serbuk biji kelor dengan kadar air 7 %. Variasi  dosis koagulan  yang  digunakan  2000,  3000,  4000,  5000 mg/200  ml  limbah  cair tahu, ukuran koagulan 50 dan  70  mesh  dengan  pH  awal  adalah  4.  Waktu  pengendapan  optimum  yang  diperoleh  adalah  60  menit  dengan penurunan turbiditas 77,43 %, TSS 90,32 %, dan COD 63,26 %  pada dosis koagulan 5000 mg/200 ml, dan ukuran partikel  koagulan  70  mesh  dengan  pH  akhir  adalah  4,  sehingga  dapat  disimpulkan  bahwa  biji  kelor  dapat digunakan sebagai koagulan yang efektif karena persentase penurunan yang diperoleh di atas 50 %.
Kata Kunci: limbah cair industri tahu, biji kelor, turbiditas, TSS, COD
Penulis: Ayu Ridaniati Bangun, Siti Aminah, Rudi Anas Hutahaean, M. Yusuf Ritonga
Kode Jurnal: jpkimiadd130165
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

PENGARUH PENGGUNAAN LARUTAN ALKALI PADA KEKUATAN TARIK DAN UJI DEGRADASI KOMPOSIT POLIPROPILENA BEKAS BERPENGISI SERBUK SERABUT KELAPA

Abstrak: Komposit  merupakan  gabungan  dua  bahan atau  lebih  yang berlainan  untuk  memperoleh  bahan dengan  sifat-sifat  fisik  dan  mekanik  yang  lebih  baik  dibandingkan  sifat  setiap  komponen pembentuknya.  Salah  satu  jenis  komposit  yang  banyak  dihasilkan  adalah  komposit  berpengisi serbuk  alami.  Penelitian  ini  menggunakan  matriks  polipropilena  bekas  yang  berasal  dari  botol minuman  cup  bekas  dan  pengisi  serbuk  serabut  kelapa  yang  telah  diolah  dengan  Natrium Hidroksida (NaOH).Rasio  perbandingan  antara  matriks  dan  pengisi  adalah  85:15.  Rasio  ini merupakan  nilai  optimum  yang  diperoleh  berdasarkan  kekuatan  uji  tarik  komposit  dengan beberapa  rasio  yaitu  100:0 ,  95:5,  90:10  dan  85:15.  Tujuan  penelitian  ini  adalah  untuk mengetahui pengaruh penggunaan larutan alkali terhadap sifat komposit yang dihasilkan  berupa kekuatan  tarik,  serta  pengaruh  uji  degradasi  terhadap  bahan  komposit  polipropilen  bekas berpengisi  serabut  kelapa.  Variasi  uji  degradasi  komposit  adalah  10,  20  dan  30  hari  dan perendaman serbuk selama 1 dan 2 hari. Metode yang digunakan dalam pembuatan komposit ini adalah  metode  ekstrusi.  Matriks  berupa  polipropilena  bekas  dicampur  dengan  serbuk  serabut kelapa  yang  telah  direndam  dengan  NaOH,  kemudian  dicampur  di  dalam  sebuah  wadah, kemudian  dimasukkan  ke  dalam  ekstruder  dengan  suhu  operasi  1750C,  dicetak  dengan menggunakan  hot  press  pada  suhu  1750C,  dan  dipotong-potong  sesuai  pengujian.  Hasil penelitian  menunjukkan  bahwa terjadi  pengolahan  optimum  dengan  NaOH selama  2 hari.  Hasil uji  degradasi  menunjukkan  perendaman  selama 2  hari  memiliki  nilai  kekuatan tarik    yang  lebih tinggi  dibandingkan  1  hari  yaitu  sebesar  29,023  MPa  pada  0  hari,  28,835  MPa  pada  10  hari, 26,762 MPa pada 20 hari dan 25,361 MPa pada 30 hari.
Kata kunci: komposit, polipropilena bekas, serabut kelapa, NaOH, uji degradasi, uji tarik
Penulis: Fitriah Sari Nst, Harry Abrido S, Maulida
Kode Jurnal: jpkimiadd130164
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

PENGARUH SUHU DAN KECEPATAN PENGADUKAN PADA PROSES PEMBUATAN SURFAKTAN NATRIUM LIGNOSULFONAT DARI TEMPURUNG KELAPA

Abstrak: Tempurung kelapa merupakan limbah pertanian yang mempunyai nilai ekonomis yang rendah. Penelitian ini bertujuan  untuk  memanfaatkan  limbah  tempurung  kelapa  untuk  bahan  baku  pembuatan  surfaktan. Dasar pemanfaatan  ini  adalah  karena  kandungan  lignin  yang  cukup  besar,  yaitu  sekitar  29,4%.  Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui isolasi lignin dengan penambahan katalis NaOH dan penambahan H2SO4 serta identifikasi  lignin,  mengamati  pengaruh  temperatur  dan  kecepatan  pengadukan  pada  proses  pembuatan surfaktan.  Penelitian  dilakukan  menggunakan  reaktor  labu  leher  tiga  pada  suhu  100  0C,  110  0C,  1200C, waktu  reaksi  3  jam,  pH  6,  kecepatan  pengadukan  80  rpm,  90  rpm,  100  rpm  dan  bahan  baku  tempurung kelapa.  Tempurung  kelapa  kering  dihaluskan  dan  dikumpulkan  serbuknya  sebagai  bahan  baku.  Serbuk tempurung kelapa direaksikan dengan larutan natrium bisulfit dengan perbandingan 1:0,5. Hasilnya disaring sehingga  dihasilkan  residu  dan  filtrat.  Filtrat  yang  mengandung  surfaktan  hasil  reaksi  dianalisis  dengan metode  spektrofotometri  FT-IR.  Berdasarkan  penelitian  didapatkan  kemurnian  surfaktan  maksimal  pada penggunaan natrium bisulfit dengan perbandigan reaktan 1:0,5;  kecepatan 100 rpm dan suhu 1200C.
Kata kunci: surfaktan, tempurung kelapa, spektrofotometri FT-IR, spektrofotometri UV-Visible
Penulis: Jhon Peri Rinaldo Sirait, Nico Sihombing, Zuhrina Masyithah
Kode Jurnal: jpkimiadd130163
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

EKSTRAK DAUN SIRIH HIJAU DAN MERAH SEBAGAI ANTIOKSIDAN PADA MINYAK KELAPA

Abstrak: Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya, dengan pembagian sebuah zat terlarut antara  dua  pelarut  yang  tidak  dapat  tercampur  untuk  mengambil zat  terlarut  tersebut  dari  satu pelarut  ke  pelarut  yang  lain.  Tujuan  dari  penelitian  ini  adalah  untuk  mengetahui  aktivitas antioksidan yang terdapat pada ekstrak daun sirih untuk minyak kelapa dengan analisa bilangan peroksida, ketahanan antioksidan, uji warna dengan lovibond dan menemukan variasi jenis daun sirih yang  menghasilkan  kondisi operasi  antioksidan yang  optimum.  Dalam  penelitian ini,  daun sirih  hijau  dan  merah  diekstrak  dengan  menggunakan  pelarut  etanol,  hasil  ekstrak  akan ditambahkan ke minyak kelapa lalu diuji bilangan peroksidanya dan kadar warnanya. Hasil yang diperoleh  pada  penelitian  ini  adalah  daun  sirih  dapat  menurunkan  bilangan  peroksida  sebesar 55,13% dengan keadaan optimum terbaik; volume pelarut 150 ml, waktu ekstraksi 75 menit, dan kecepatan pengadukan 300 rpm untuk bahan baku serbuk daun sirih merah.
Kata kunci: ekstraksi, antioksidan, bilangan peroksida, sirih, lovibond
Penulis: Hermiati, Rusli, Naomi Yemima Manalu, Mersi Suriani Sinaga
Kode Jurnal: jpkimiadd130162
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

AKTIVITAS ANTIBAKTERI MINYAK ATSIRI DAUN SIRIH MERAH (Piper CrocatumRuiz & Pav.)

ABSTRAK: Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  kandungan  komponen  kimia  dan  uji antibakteri  minyak  atsiri  daun  sirih  merah  (Piper  crocatum  Ruiz  &  Pav.).  Analisis Kromatografi  Gas-Spektrometri  Massa    (GC-  MS)  menunjukkan  16  senyawa   terdeteksi dengan senyawa utama sabinen (44,91%) dan β-mirsena (18,88%). Nilai Konsentrasi Hambat Minimum  (KHM)  untuk  bakteri  gram  positif   yaitu  Bacillus  cereus,  Staphylococcus  aureus, Staphylococcus  epidermidis,  secara  berurutan  sebesar  1%,  0,25%,  0,5%,  sedangkan  untuk bakteri  gram  negative  Shigellaflexneri  mempunyai  KHM  sebesar  0,25%,  Eschericia  coli sebesar 1% dan Pseudomonas aeruginosa sebesar  0,075%.
Kata Kunci: aktivitas antibakteri,minyak atsiri, Piper crocatum Ruiz & Pav
Penulis: Soerya Dewi M, Nestri Handayani, Siti Ngaisah, Eliza Nur Setyowati
Kode Jurnal: jpkimiadd130161
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

PERBEDAAN PROSA DENGAN PUISI

Dilihat dengan detail, ada beberapa perbedaan prosa dengan puisi. Puisi merupakan aktivitas yang bersifat pencurahan jiwa yang padat, bersifat sugestif dan asosiatif. Sedangkan prosa merupakan aktivitas yang bersifat naratif, menguraikan, dan informatif (Pradopo, 1987).
Perbedaan lain yaitu puisi menyatakan sesuatu secara tidak langsung, sedangkan prosa menyatakan sesuatu secara langsung.
Slametmulyana (1956) mengatakan bahwa ada perbedaan pokok antara prosa dan puisi. Pertama, kesatuan prosa yang pokok adalah kesatuan sintaksis, sedangkan kesatuan puisi adalah kesatuan akustis. Kedua, puisi terdiri dari kesatuan-kesatuan yang disebut baris sajak, sedangkan dalam prosa kesatuannya disebut paragraf. Ketiga, di dalam baris sajak ada periodisitas dari mula sampai akhir.
Pendapat lain mengatakan bahwa perbedaan prosa dan puisi bukan pada bahannya, melainkan pada perbedaan aktivitas kejiwaan. Puisi merupakan hasil aktivitas pemadatan, yaitu proses penciptaan dengan cara menangkap kesan-kesan lalu memadatkannya (kondensasi). Prosa merupakan aktivitas konstruktif, yaitu proses penciptaan dengan cara menyebarkan kesan-kesan dari ingatan (Djoko Pradopo, 1987).
Puisi: merupakan aktifitas jiwa yang menangkap kesan-kesan, kemudian kesan-kesan tersebut dipadatkan (dikondensasikan) dan dipusatkan. merupakan pancuran jiwa yang bersifat liris (emosional) dan ekspresif. seringkali kalimat dan isinya bersifat konotatif.
Prosa: merupakan aktifitas penyebaran (mendispersi) ide atau gagasan dalam bentuk uraian, bahkan kadang-kadang sampai merenik. merupakan pengungkapan gagasan yang bersifat epis atau naratif. pada umumnya bermakna denotasi, walaupun kadang ada karya yang isinya konotatif.
Dengan singkat bisa dikatakan bahwa prosa adalah pengucapan dengan pikiran dan puisi ialah pengucapan dengan perasaan. Bahasa ilmu pengetahuan ialah prosa. Di situlah pikiran dikemukakan dan pikiran yang menerima. Orang yang mengajarkan  matematik misalnya tidak akan mengemukakan perasaannya;  contoh: 1 + 1 = 2. Orang harus menerimanya saja tanpa merasakan keharuan.
Apakah ada prosa yang bersifat kesusasteraan?! Prosa baru bersifat kesusasteraan apabila memenuhi syarat kesenyawaan yang harmonis antara bentuk dan isi. Prosa biasa adalah laksana angka-angka yang berisi pengertian yang tetap, prosa kesusasteraan laksana manusia hidup, kesatuan tubuh dan jiwa, pikiran dan perasaan yang mengungkapkan yang serba mungkin. Perasaan itu lebih-lebih terkandung dalam puisi, tapi puisi yang baikpun tidak hanya sekedar perasaan belaka juga mengandung pemikiran dan tanggapan.
Didalam puisi, pikiran dan perasaan menyatu seolah-olah bersayap  terbang belanglang buana ke arah yang mereka suka membawa luapan emosi dan akhirnya,  membuahkan suatu karya dengan  keindahan gaya bahasa bagaikan bunyi dan lagu dengan tekanan suara (ritme) tertentu.
Prosa pada dasarnya menyodorkan suatu cara pengungkapan yang explisit, mengurai atau menjelaskan segala sesuatunya. Meskipun sama-sama menerapkan pengungkapan secara explisit, antara prosa dengan penulisan ilmiah tampak perbedaan dalam segi penerapan keindahan bahasa dan kalau kita mengambil perbandingan dengan gerak tubuh, maka pada prosa semisal orang menari, sedangkan pada ilmu adalah gerak tubuh sebagaimana yang wajar.
Kalau dalam puisi kita berhadapan dengan suatu cara pengungkapan yang menyirat, maka dalam sajak kita tidak saja berhadapan dengan cara pengungkapan yang menyirat, tetapi juga menghadapi “materi isi” atau lebih tepatnya “sunjct-matter” yang tersirat.
Puisi dibanding prosa adalah seperti orang menari dan berjalan biasa , atau seperti orang bernyanyi dan bicara biasa. Puisi tidak mengabdi kepada otak yang berpikir melainkan perasaan yang berbicara dan ini dapat menyentuh siapapun yang membaca atau mendengarkannya.
Kelebihan penyair dalam mempergunakan bahasa ialah bahwa ia menjiwai perkataan yang dilontarkannya, pemilihan kata-kata yang menarik dengan meng-kombinasikan kata-kata tersebut sehingga melahirkan kalimat yang indah enak didengar serta menyentuh perasaan yang dapat menyegarkan suasana.

PERBEDAAN SAJAK DENGAN PUISI

Ada beberapa perbedaan sajak dengan puisi. Istilah puisi berasal dari kata poezie (Belanda). Dalam bahasa Belanda dikenal pula istilah gedicht yang berarti sajak. Dalam bahasa Indonesia (Melayu) hanya dikenal istilah sajak yang berarti poezie maupun gedicht. Istilah puisi cenderung digunakan untuk berpasangan dengan istilah prosa, seperti istilah poetry dalam bahasa Inggris yang dianggap sebagai salah satu nama jenis sastra. Jadi, istilah puisi lebih bersifat general, jenisnya, sedangkan sajak bersifat khusus, individunya. Dalam sastra Indonesia ada dua istilah puisi dan sajak. Pusi dalam bahasa inggris poetry dan sajak dalam bahasa Inggris poem. Puisi adalah jenis sastra, sedangkan sajak itu individu puisi.
Sajak adalah puisi, tetapi puisi belum tentu sajak. Puisi mungkin saja terdapat dalam prosa seperti cerpen, novel, atau esai sehingga sering orang mengatakan bahwa kalimat-kalimatnya puitis (bersifat puisi). Puisi menjadi suatu pengungkapan secara implisit, samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-kata condong pada artinya yang konotatif, demikian menurut Putu Arya Tirtawirya . Sementara sajak, lebih luas lagi, tak sekadar hal yang tersirat, tetapi sudah menyangkut materi isi puisi, bahkan sampai ke efek yang ditimbulkan, seperti bunyi. Maka itu, sajak terkadang juga dimaknai sebagai bunyi.
Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa yunani “poeima” membuat atau “poesis” pembuatan, dan dalam bahasa inggris disebut ”poem” atau “poetry”. Puisi diartikan “membuat” dan “pembuatan” karena lewat puisi pada dasarnya seorang telah menciptakan suatu dunia tersendiri, yang mungkin berisi pesan atau gambaran suasana-suasana tertentu, baik fisik maupun batiniah.
Dengan mengutip pendapat Mc Caulay, Hudson mungungkapkan bahwa puisi adalah salah satu cabang sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membuahkan ilusi dan imajinasi, seperti halnya lukisan yang menggunakan baris dan warna dalam menggambarkan gagasan pelukisnya. Rumusan pengertian puisi diatas, sementara ini dapat kita terima karena kita seringkali diajak oleh suatu ilusi tentang keindahan, terbawa dalam suatu angan-angan, sejalan dengan keindahan penataan unsur bunyi, penciptaan gagasan, maupun suasana tertentu sewaktu membaca suatu puisi.
Lalu apakah sajak itu? Ternyata tidak ada satu defenisipun yang mampu menjawabnya dengan sempurna, kecuali mungkin jawaban melalui sajak pula.  Penyair Boris Pasternak pernah menjelaskan pengertian sajak dalam sajaknya yang berjudul Batasan Sajak:
sajak adalah siul melengking suram
sajak adalah gemertak kerucut salju beku
sajak adalah daun-daun menges sepanjang malam
sajak adalah dua ekor burung malam menyanyikan duel
sajak adalah manis kacang kapri mencekik mati
sajak adalah air mata dunia diatas bahu
Jika ingin lebih mengerucut lagi maka sebuah sajak pada hakekatnya mengundang kita berasosiasi. Tidak berinterpretasi, bertafsir-tafsir. Puisi mengundang kita lebih pada imajinasi dan interpretasi yang mungkin berbeda bagi setiap pembacanya.

Unsur-Unsur Kebudayaan

Ada beberapa unsur-unsur kebudayaan. Koentjaraningrat (1985) menyebutkan ada tujuh unsur-unsur kebudayaan. Ia menyebutnya sebagai isi pokok kebudayaan. Ketujuh unsur kebudayaan universal tersebut adalah:
  1. Kesenian
  2. Sistem teknologi dan peralatan
  3. Sistem organisasi masyarakat
  4. Bahasa
  5. Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
  6. Sistem pengetahuan
  7. Sistem religi
Pada jaman modern seperti ini budaya asli negara kita memang sudah mulai memudar, faktor dari budaya luar memang sangat mempengaruhi pertumbuhan kehidupan di negara kita ini. Contohnya saja anak muda jaman sekarang, mereka sangat antusias dan up to date untuk mengetahui juga mengikuti perkembangan kehidupan budaya luar negeri. Sebenarnya bukan hanya orang-orang tua saja yang harus mengenalkan dan melestarikan kebudayaan asli negara kita tetapi juga para anak muda harus senang dan mencintai kebudayaan asli negara sendiri. Banyak faktor juga yang menjelaskan soal 7 unsur budaya universal yaitu :
Kesenian 
Setelah memenuhi kebutuhan fisik manusia juga memerlukan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan psikis mereka sehingga lahirlah kesenian yang dapat memuaskan.
Sistem teknologi dan peralatan
Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang – barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain.
Sistem organisasi masyarakat
Sistem yang muncul karena kesadaran manusia bahwa meskipun diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna namun tetap memiliki kelemahan dan kelebihan masing – masing antar individu sehingga timbul rasa utuk berorganisasi dan bersatu.
Bahasa
Sesuatu yang berawal dari hanya sebuah kode, tulisan hingga berubah sebagai lisan untuk mempermudah komunikasi antar sesama manusia. Bahkan sudah ada bahasa yang dijadikan bahasa universal seperti bahasa Inggris.
Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
Sistem yang timbul karena manusia mampu menciptakan barang – barang dan sesuatu yang baru agar dapat memenuhi kebutuhan hidup dan membedakan manusia dengam makhluk hidup yang lain.
Sistem pengetahuan
Sistem yang terlahir karena setiap manusia memiliki akal dan pikiran yang berbeda sehingga memunculkan dan mendapatkan sesuatu yang berbeda pula, sehingga perlu disampaikan agar yang lain juga mengerti.
Sistem religi
Kepercayaan manusia terhadap adanya Sang Maha Pencipta yang muncul karena kesadaran bahwa ada zat yang lebih dan Maha Kuasa. 
Adapun C. Kluckhohn dalam karyanya Universals Categories of Culture memaparkan ada tujuh unsur kebudayaan yang dianggap cultural universals, yaitu sebagai berikut:
  1. Sistem kepercayaan (sistem religi). Setiap masyarakat memiliki keyakinan terhadap hal-hal bersifat religi, bahkan pada masyarakat atheis (tidak percaya adanya Tuhan) sekali pun.
  2. Sistem pengetahuan. Setiap masyarakat mempunyai sistem pengetahuan yang mungkin berbeda-beda pada setiap masyarakatnya.
  3. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia. Setiap masyarakat juga memiliki pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, alat-alat produksi, senjata, dan sebagainya.
  4. Mata pencaharian dan sistem-sistem ekonomi. Dalam masyarakat selalu ada mata pencaharian atau sistem ekonomi, seperti pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dan sebagainya.
  5. Sistem kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki kemasyarakatan, di antaranya, sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, dan sistem pekawinan.
  6. Bahasa, baik lisan maupun tulisan. Masyarakat mana yang tidak memiliki bahasa? Tentunya tidak ada masyarakat yang tidak memiliki bahasa, baik bahasa lisan maupun tulisan.
  7. Kesenian, baik seni rupa, seni suara, maupun seni lainnya. Setiap masyarakat mempunyai berbagai macam seni yang tentunya berbeda dengan masyarakat lainnya.
Lain halnya dengan Bronislaw Malinowski. Ia  mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
  1. Sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
  2. Organisasi ekonomi
  3. Alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
  4. Organisasi kekuatan (politik)

MIKROENKAPSULASI KITOSAN TERSAMBUNGSILANG DAN UJI ADSORPSIVITAS ZAT WARNA REMAZOL YELLOW FG 6

ABSTRAK: Telah  dilakukan  sintesis  adsorben  melalui  proses  sambung  silang  kitosan  gel  dan mikroenkapsulasi. Produk sintesis digunakan sebagai adsorben zat warna Remazol Yellow FG 6.  Uji  adsorpsi  dilakukan  dengan  membandingkan  kemampuan  kitosan,  kitosan  tersambung silang  dan  mikrokapsul  kitosan  tersambung  silang  untuk  mengadsorpsi  zat  warna  Remazol Yellow FG 6 pada pH 11, konsentrasi 15 ppm dan dengan variasi waktu kontak.  Hasil menunjukkan bahwa kitosan tersambung silang dapat menyerap  Remazol Yellow FG 6 sebesar 3,99 kali lebih tinggi daripada kitosan yang tidak tersambung silang. Sedangkan pada mikrokapsul kitosan tersambung silang dapat menyerap Remazol Yellow FG 6 sebesar 4 kali  lebih  tinggi  daripada  kitosan  gel.  Analisis  adsorpsivitas  adsorben  terhadap  Remazol Yellow  FG  6  dilakukan  menggunakan  spektrofotometer  UV-Vis.  Adsorpsi  mikrokapsul kitosan tersambungsilang mempunyai waktu kontak optimum lebih pendek dan stabilitas yang lebih tinggi dari pada kitosan tersambung silang. Hal ini menunjukkan bahwa proses sambung silang  dan  mikroenkapsulasi  dapat  meningkatkan  adsorpsivitas  kitosan  dan  meningkatkan stabilitas dari kitosan tersebut.
Kata kunci: adsorpsi, kitosan, mikroenkapsulasi, sambung silang
Penulis: Triana Kusumaningsih, Pranoto, Desi Suci Handayani, Dian Endah Kusuma Astuti
Kode Jurnal: jpkimiadd130160
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

PENGARUH PARAMETER REAKSI TERHADAP RENDEMEN POLIOL DARI MINYAK BIJI KARET

ABSTRAK: Telah  dilakukan  penelitian  tentang  pengaruh  parameter  reaksi  terhadap  rendemen poliol  dari  minyak  biji  karet  dan  minyak  kelapa  sawit  sebagai  senyawa  pembanding.  Poliol disintesis melalui reaksi antara minyak dan peracid. Peracid dihasilkan melalui pencampuran asam  formiat  (HCOOH)  dan  hidrogen  peroksida  (H2O2)  dengan  katalis  (H2SO4).  Poliol berhasil  disintesis  berdasarkan  analisis  spektra  fourier  transform  infrared  spectroscopy (FTIR)  dengan  pembanding  spektra  FTIR  PEG-400  dan  poliol  hasil  sintesis  dari  Suryani (2009).   Hasil  analisis  uji-t  menunjukkan  bahwa  tidak  ada  perbedaan  rendemen  poliol  dari minyak  biji  karet  dan  minyak  kelapa  sawit.  Analisis  grafik  sederhana  menunjukkan  bahwa rendemen optimum poliol diperoleh pada kondisi yang sama, yaitu rasio molar HCOOH:H2O2 4:1 mol/mol dan konsentrasi H2SO4 4% v/v minyak. Karakterisasi fisik meliputi densitas dan viskositas  poliol  menunjukkan  bahwa  dalam  batas-batas  kesalahan  pengukuran,  densitas poliol adalah sama, sedangkan viskositas poliol menunjukkan harga yang berbeda-beda.
Kata kunci: minyak biji karet, parameter reaksi, poliol, rendemen
Penulis: Mudjijono, Sasanti Utami
Kode Jurnal: jpkimiadd130159
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

PENGARUH METODE FERMENTASI, KOMPOSISI UMPAN, pH AWAL, DAN VARIASI PENGENCERAN TERHADAP PRODUKSI BIOGAS DARI VINASSE

ABSTRAK: Limbah cair industri bioetanol dari hasil bawah sisa proses distilasi dikenal dengan vinasse.  Kandungan  COD  (Chemical  Oxygen  Demand)  yang  tinggi  pada  vinasse  lebih tepat  diuraikan  dengan  proses  anaerob  menjadi  biogas.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk mempelajari  pengaruh  metode  fermentasi,  komposisi  umpan,  variasi  pH  awal  fermentasi yaitu  6,7,  dan  8,    dan  variasi  pengenceran  umpan  1:0,  1:1,  1:2,  1:3,  1:4,  1:5  (Total  Solid (TS) 27.865%, 13.93%, 9.288%, 6.96%, 5.573%, 4.64%). Sumber bakteri yang digunakan dari  rumen  sapi  sebanyak  25  ml  dan  urea  2.57  g   sebagai  nutrisi.    Proses  fermentasi dilakukan  secara  batch  dengan  pengukuran  gas  setiap  3  hari  menggunakan  metode  water displacement  technique  sampai  gas  tidak  terbentuk.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa metode tanpa pengendalian pH pada komposisi vinase rumen urea (250ml vinasse, 25 ml rumen,  2.57  urea)  dan  pH  awal  fermentasi  7  merupakan  variabel  terbaik  dengan  total produksi  biogas  sebesar  635  ml  (8.49  ml  biogas/gr  COD).  Untuk  varibel  pengenceran umpan,  produksi  biogas  terbaik  pada  rentang  rasio  1:4  (TS  5,573%)  dan  1:5(TS  4,64%) yaitu sebesar 27,22-30,17 ml /g TS.
Kata Kunci: biogas, pH awal, total solid, urea, vinasse
Penulis: Budiyono, Mariyah Eka Pratiwi, Ignata Noviantari Sinar Y
Kode Jurnal: jpkimiadd130158
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

KINETIKA REAKSI CH3COOH DENGAN Br2 SEBAGAI REAKSI YANG MIRIP REAKSI ENZIMATIS

ABSTRAK: Tujuan  penelitian  adalah  membuktikan  bahwa  pada  kondisi  tertentu  reaksi  antara CH3COOH  dengan  Br2  mirip  reaksi  enzimatis  dan  harga  tetapan, dari  persamaan Espenson berbeda dengan dengan harga k yang diperoleh dari metode integral. Percobaan dilakukan  dengan  variasi  konsentrasi  CH3COOH.  Reaksi  dipelajari  dengan  metode spektroskopi dengan mencatat perubahan absorbansi Br2 pada panjang gelombang 400 nm (indeks  absorbansi    160  M-1  cm-1)  tiap  rentang  waktu  tetap.  Data  dianalisis  dengan persamaan integral dan order reaksi ditentukan berdasarkan harga koefisien regresi, r yang mendekati  1  atau  -1.  Reaksi  dikatakan  mirip  reaksi  enzimatis  jika  order  awal  reaksi berbeda  dengan  akhir  reaksi.  Data  juga  dianalisis  dengan  menggunakan  persamaan Espenson  dan  persamaan  integral  (sebagai  pembanding).  Hasil  penelitian  menunjukkan bahwa  pada  konsentrasi  CH3COOH  0,00150  M;  0,00100  M;  dan  0,00075  M  dan  Br2 0,00300  M  reaksi  ini  mirip  reaksi  enzimatis.  Pada  konsentrasi  CH3COOH  yang  berbeda, harga k yang diperoleh dari persamaan Espenson berbeda dengan harga k  yang dihitung dengan metode integral.
Kata kunci: reaksi enzimatis, order reaksi, Vmaks
Penulis: Novika Tusta Felandi, Patiha, Edi Pramono
Kode Jurnal: jpkimiadd130157
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

UJI HIPOGLIKEMIK EKSTRAK METANOL DAUN MAJAPAHIT (Crescentia Cujete (L.) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH MENCIT JANTAN

Abstract: Hypoglycemic test of methanol extract of Crescentia cujete (L.) at dose 25 mg/kg, 50 mg/kg and 75 mg/kg  given  to  male  laboratory  mice  orally  with  glucose  tolerance  test  method  has  been  done. Measurement  of  blood  glucose  was  carried  out  every  30,  60,  90,  120,  150  and  180  minutes  with glucometer.  Result  of  this  research  concluded  that  addition  of  methanol  extract  of  dose  25  mg/kg gave strongest hypoglycemic effect (25.20%), followed at dose 50 mg/kg (18.00%) and at close 75 mg/kg  (10.01%)  at  confidence  limit  0.05.  Phytochemical  test  of  methanol  extract  of  Crescentia cujete (L.) leaves shown presence of alkaloids, terpenoids, phenolic and saponin compounds.
Keywords: Hypoglycemic, Crescentia cujete (L.)., phytochemical
Penulis: Erwin, Chaerul Saleh dan Tika Purwitasari
Kode Jurnal: jpkimiadd120122
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

ADSORPSI TIMBAL (Pb) DAN ZINK (Zn) DARI LARUTANNYA MENGGUNAKAN ARANG HAYATI (BIOCHARCOAL) KULIT PISANG KEPOK BERDASARKAN VARIASI pH

Abstract: The research has been done concerning the adsorption of biological charcoal from kapok banana peel onPb and Zn metal from solution. This study aimed to determine the ability of a banana peel charcoal to adsorbPb and Zn metal from its solution. The method used in this research was a laboratory experiment by using activated charcoal of banana peel as adsorbent ofPb and Zn metal. The absorbed Pb and Zn were measured by using Atomic Absorption Spectrometry (AAS). The results showed that the optimum pH of adsorption of Pb and Zn was obtained at pH 4 and pH 6 respectively with the concentration of Pb and Zn metal was 19.40 mg/g and 21.17 mg/g respectively.
Keywords: Adsorption, biological activated charcoal of kapok banana peel, Pb and Zn metal
Penulis: Darmayanti, Nurdin Rahman, Supriadi
Kode Jurnal: jpkimiadd120121
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

ANALISIS LOGAM TIMBAL (Pb) DAN BESI (Fe) DALAM AIR LAUT DI WILAYAH PESISIR PELABUHAN FERRY TAIPA KECAMATAN PALU UTARA

Abstract: The analysis of lead (Pb) and iron (Fe) analysis have been done in Taipa’s sea water. The objective is to determine the level of lead and iron metals using spectrophtometry method. The sea water samples were taken in the morning and afternoon at three different places. The distance of 3 samples are approximately 5 m, 10 m, and 15 m from the harbour and about 5 m from the seashore. The result of the analysis level of lead and iron metals from 3 points for lead taken in the morning, point A is 0.919 mg/L, point B is 0.703 mg/L, and point C is 0.810 mg/L. While, taken in the afternoon, the lead level point A is 0.729 mg/L, point B is 0.837 mg/L, and point C is 0.729 mg/L. For the iron level taken in the morning, point A is 0.394 mg/L, point B is 0.546 mg/L, and point C is 0,324 mg/L. Meanwhile, in the afternoon the iron level, point A is 0.449 mg/L, point B is 0.365 mg/L, and point C is 0.504 mg/L. The concentration of lead metal in the sea water is in range 0.703 mg/L – 0.919 mg/L. The concentration is higher than limit ranges value of lead metal 0.025 mg/L. The concentration of iron metal in the sea water of Taipa’s harbor is about 0.324 mg/L – 0.546 mg/L. It’s concentration is higher than limit for value iron metal 0.01 mg/L.
Keywords: Lead, Iron, Sea Water, Contamination, Coastal area
Penulis: Ika ika, Tahril Tahril, Irwan Said
Kode Jurnal: jpkimiadd120120
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

DAYA INSEKTISIDA ALAMI KOMBINASI PERASAN UMBI GADUNG (Dioscorea hispida Dennst ) DAN EKSTRAK TEMBAKAU ( Nicotiana tabacum L)

Abstract: The research regarding the natural insecticide capacity of squeeze combination of cassava (DioscoreahispidaDennst) and tobacco’s extract has been done. The purposes are to measure the capacity of squeeze combination of cassava and tobacco’s extract as a natural insecticide and to determine the most effective combination as natural insecticide. Its method was the laboratory experiments by using squeeze cassava and tobacco’s extract with the comparison ratio (in mL) as follow; 0:100, 25:75, 50:50, 75 : 25, and 100 : 0. The using of various comparisons is to determine the most effective combination as natural insecticide. The data were analyzed by the statistical test analysis of variance (ANOVA) with a 95% confidence level. The result shows that the squeeze combination of cassava and tobacco’s extract reduce the capacity of natural insecticide which is dioscorin compound in cassava and nicotin in tobacco.However, the most effective treatment to kill rice pest is the mixture of cassava and tobacco 0 mL : 100 mL, and also 100 mL : 0 mL.
Keywords: Natural insecticide, cassava, tobacco, squeeze combination
Penulis: Misroul Hasanah, I Made Tangkas, Jamaluddin Sakung
Kode Jurnal: jpkimiadd120119
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

AKUMULASI LOGAM TIMBAL (Pb) DALAM IKAN BELANAK (Liza melinoptera) YANG HIDUP DI PERAIRAN MUARA POBOYA

Abstract: Poboya River estuary that known to have been contaminated with heavy metals, one of them is metal lead (Pb). This is because the high human activity in the surrounding waters hed, which may be the source of the entry of heavy metals into the estuary waters. Poboya River estuary has many kinds of marine life, including fish such as Belanak (Liza Melinoptera). Fish used as an indicator of contamination that occurred in the waters. This study aims to determine how much accumulation and metal concentrations of lead (Pb), which accumulates in fish living Belanak Poboya estuaries. The method used is the gravimetric method for determining water content, biomass and low ash content, while the analysis of the samples in this study using Atomic Absorption Spectrometry instrument (SSA). The results showed that the water content mobtained at 55.830%. While the levels of biomass were obtained for 89.200% and ash content of meat samples obtained at 10.790%. While the results showed that the accumulation of the metal lead (Pb) in Belanak fish average of 1.746 ± 1.673mg/kg. That exceeds the maximum value of the metal Lead in food in accordance with ISO 01-2729.1-2006, ie 0.4 mg/kg.
Keywords: Lead (Pb) metal, Mullet (Liza Melinoptera), Poboya river estuary, Atomic Absorption pectrometry (AAS)
Penulis: Melisa Arsad, Irwan Said, Suherman Suherman
Kode Jurnal: jpkimiadd120118
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

PENENTUAN KADAR KALIUM (K) DAN KALSIUM (Ca) DALAM LABU SIAM (Sechium Edule) SERTA PENGARUH TEMPAT TUMBUHNYA

Abstract: Chayote (Sechiumeaite) is an alternative source of vegetable which is consumed largely by the community. For that reason, the research was conducted to determine the content of potassium (K) and calcium (Ca) as wll as its relation to the growth soil. The method of this research is laboratory experiments by using Atomic Absorption Spectrometry. The result shows that the content of potassium in Palolo’s chayote meat is 134.35 mg/100 g, skin and fruit meat is 269.10 mg/100 g, and in the ground is 34.02 mg/100 g. However, in Kebun Kopi’s pumpkin, the content of potassium (K) is 177.42 mg/100 g in its fruit meat, 298.35 mg/100 g in its skin and fruit meat, and 88.02 mg/100 g in the soil. On the other hands the content of calcium obtained as follows: in Palolo’s chayote meat is 38.53 mg/100 g, in the skin and fruit meat is 55.865 mg/100 g, and in the soil is 32.72 mg/100 g. In the area of Kebun Kopi’s chayote meat is 20.535mg/100 g, in the skin and fruit meat is 30.605 mg/100 g, and in the soil is 7.682 mg/100 g. Therefore, the content of potassium and calcium obtained is higher than in the literature.
Keywords: Content of Potassium (K) and calcium (Ca), Chayote (sechiumedule), and Atomic Absorption Spectrophotometry
Penulis: Ni Luh Cicik Fitriani, Daud K Walanda, Nurdin Rahman
Kode Jurnal: jpkimiadd120117
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT LANGSAT (Lansium domesticum) SEBAGAI ANTI NYAMUK ELEKTRIK TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti

Abstract: The research concerning a test on the effectiveness of lansium peel extract (Lansium Domesticum) as a mosquito electric repellent against Aedes Aegypti mosquitoes has been done. This research aimed to know the effectiveness of lansium peelextractas anelectricmosquito repellent. The method usedwaslaboratory experiments. The lansium peel extract obtained from themaceration method added with absolute methanol was evaporated to produce thick lansium peel extract. Then,the extractwas diluted to the concentration of 35%, 30%, 25%, 20%, and 15%. The research dataobtained was the death of Aedes Aegypti which then was analyzed by Statistical Varian Analysis test (ANOVA) with the95% confidence level. It was followed by Duncan test to determine the most effective concentration. The result showed that the most effective concentration as electrical mosquitoes repellent was 25%.
Keywords: Electrical Mosquitoes Repellent, Lansium peel(Lansiumdomesticum) and AedesAegypti Mosquitoes
Penulis: Mirnawaty Mirnawaty, Supriadi Supriadi, Budiman Jaya
Kode Jurnal: jpkimiadd120116
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

PENGARUH LAMA PENYIMPANAN DAN KONSENTRASI NATRIUM BENZOAT TERHADAP KADAR VITAMIN C CABAI MERAH (Capsicum annuum L)

Abstract: Red chillies (Capsicum annuum L) are considerable horticultural crops widely grown in Indonesia, which has a high value and demand in market. Besides it contains higher vitamin C (ascorbic acid) and beta-carotene than other fruits such as papaya, mango, pineapple and watermelon, red chillies has a very low storability as it is susceptible to decay and the over-production of chili resulting in postharvest decay. To prevent the decay, red chillies are preserved using preservatives. Preservative used in this study is sodium benzoate since it is claimed as an effective against fungi. This study aimed to determine the effect of the concentration of sodium benzoate against storage time of red chillies (Capsicum annuum L) and also to determine the effect of the concentration of sodium benzoate levels towards vitamin C in preserved red chili. The method used in this experiment was a laboratory experiment using a visible spectrophotometry. The results showed that the use of sodium benzoate as a preservative can extend the storability of red chillies and sodium benzoate concentration also affect levels of vitamin C contained in red chillies. The level obtains at the highest concentration of 1.5% which is 54 mg/100 g with 8 days of storability.
Keywords: Red Chilli (Capsicum annuum L), Sodium Benzoate, Vitamin C and Spectrophotometry Rays Looks (Visible)
Penulis: Yanti Oktoviana, Sitti Aminah, Jamaluddin Sakung
Kode Jurnal: jpkimiadd120115
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

ADSORPSI ION KADMIUM(II) DARI LARUTANNYA MENGGUNAKAN BIOMASSA AKAR DAN BATANG KANGKUNG AIR (Ipomoea aquatica Forks)

Abstrak: The research has been conducted on the adsorption of cadmium(II) ion from its solution by using biomassa roots and stems of water spinach (Ipomoea Aquatic Forsk). Theaim of the research was to determine optimum pH and concentration of cadmium(II) metal adsorbed by biomass root  and stems of water spinach. The method used this study was laboratory experiments with 0.1 grams of roots and stems of water spinach powder as adsorbent and 25 mL of the cadmium(II) solution. The variation of pH was 1, 2.3, 4.5, 6.7, and 8, while the concentration was 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, 400 ppm, 500 ppm, 600 ppm, and 700 ppm. Determination of cadmium(II) ion adsorbed by the adsorbent has been performed using Atomic Adsorption Spectrophotometer (AAS). The measurement showed that the optimum pH of cadmium(II) ion adsorbed by the root of water spinach was at pH 4, and by the stems was at pH 3. While the optimum concentration of metal cadmium(II) solution adsorbed by the biomass of roots and stems of water spinach was 600 ppm, the same as the adsorption powerof 91.862 mg/g for root and 91.118 mg/g for stems respectively.
Keywords: Adsorption, Water Spinach (IpomeaAquaticaForsk), Ion Cadmium(II)
Penulis: Iffatunniswah Suhud, Vanny M. A. Tiwow dan Baharuddin Hamzah
Kode Jurnal: jpkimiadd120114
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

PEMANFAATAN LIMBAH LATEKS KARET ALAM DENGAN PENGISI BUBUK PELEPAH PISANG SEBAGAI ADSORBEN MINYAK

Abstrak: Pemanfaatan  limbah  lateks  karet  alam  dengan  pengisi  bubuk  pelepah  pisang  untuk  dijadikan  produk  yang  lebih berguna  yaitu  dijadikan  adsorben  minyak.  Proses  pembuatan  adsorben  diawali  dengan  mengeringkan  pelepah pisang  dan  menghaluskannya  hingga  berukuran  100  mesh.  Kemudian  bubuk  pelepah  pisang  dicampur  dengan limbah  lateks  dengan  variasi  10  dan  20%  (b/b).  Adapun  analisis  kemampuan  daya  adsorpsi    adsorben  dengan menggunakan persamaan isoterm Langmuir dan persamaan isoterm Freundlich. Penelitian dilakukan dengan proses batch  dan  mengguakan  minyak  pelumas  sebagai  adsorbatnya.  Hasil  yang  diperoleh  menunjukkan  penambahan bubuk  pelepah  pisang  sebagai  pengisi  adsorben  limbah  lateks  meningkatkan  kemampuan  daya  adsorpsi adsorbenminyak.  Kesimpulan  dari  analisa  karakteristik  adsroben  menunjukkan  peningkatan  jumlah  bubuk  pelepah pisang dapat  meninggkatkan  daya  adsorpsi  adsorben.
Kata Kunci: limbah  lateks karet alam, bubuk  pelepah  pisang, adsorben minyak, kemampuan adsorpsi
Penulis: Ismail Fahmi Hasibuan, Edward Tandy, Hamidah Harahap
Kode Jurnal: jpkimiadd120113
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....

PENENTUAN EFISIENSI INHIBISI REAKSI KOROSI BAJA MENGGUNAKAN EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana L)

Abstrak: Ekstrak kulit buah manggis merupakan inhibitor alami yang dapat digunakan untuk menghambat laju reaksi  korosi.  Penelitian  diawali  dengan  mengekstraksi  kulit  buah  manggis  dengan  cara  maserasi kemudian  dilanjutkan  dengan  evaporasi  dan  hasil  ekstrak  digunakan  sebagai  inhibitor  dengan konsentrasi 600, 800 dan 1000 ppm,  dengan sampel uji korosi yaitu  baja dengan ukuran 1 × 2 cm dengan ketebalan 0,1 cm dan media korosif air laut, air hujan dan asam sulfat 1M. Efisiensi inhibisi tertinggi yang dihasilkan adalah 99,22% , dengan pelarut etanol pada konsentrasi inhibitor 800 ppm dalam  media  korosif  air  hujan;  yang  berarti  bahwa  ekstrak  kulit  buah  manggis  lebih  efisien digunakan pada media korosif air hujan.  
Kata kunci: manggis, media korosif, laju korosi, efisiensi inhibisi
Penulis: Yuli Rizky Ananda Nasution, Sri Hermawan, Rosdanelli Hasibuan 
Kode Jurnal: jpkimiadd120112
Pesan jurnal yang anda butuhkan disini.... >>> KLIK DISINI <<< ....
 
Support : E-JURNAL | PSYCHOLOGYMANIA
Copyright © September 2013. JURNAL - All Rights Reserved
Dipersembahkan untuk pembaca dan khalayak ramai
Proudly powered by Blogger